Menu
Makalah Lengkap dan Pengetahuan Umum

KAJIAN SINONIM NOMINA DALAM BAHASA INDONESIA

  • Bagikan

Pengertian Sinonim

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna sama atau hampir sama (mirip). Adapun bentuk sinonim dapat meliputi kata, frase, dan kalimat yang maknanya kurang lebih sama. Akan tetapi, penelitian ini hanya akan mengkaji kesinoniman nomina dasar secara leksikal, menurut makna leksikalnya, dan tidak membicarakan kesinoniman pada frase atau kalimat secara gramatikal.

Selain dibatasi pada tataran nomina dasar, penentuan kesinoniman nomina dasar di sini juga dibatasi pada tataran makna referensialnya saja, bukan makna kiasnya. Jadi, misalnya kata matahari dan surya diperlakukan sebagai pasangan yang bersinonim karena memiliki makna referensial yang sama, walaupun berdasarkan kolokasinya berbeda. Kata matahari lazim dipakai dalam komunikasi sehari-hari, sedangkan kata surya Tidak lazim dipakai dalam komunikasi sehari- hari.

Pengertian Nomina Dasar

Menurut pendapat Hasan Alwi, dkk. (2000: 218) nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem. Sementara itu, menurut pendapat Syahidin Badru, Ebah Suhaebah, dan Non Martis (2000: 15) nomina dasar adalah nomina yang terdiri atas satu bentuk terkecil atau bentuk yang tak terbagi lagi, yaitu bentuk asal yang tidak mendapat afiks, tidak diulang, dan tidak digabungkan dengan bentuk dasar atau bentuk berafiks lain.

Misalnya, kata rumah tidak dapat dibagi menjadi ru dan mah, baik ru maupun mah tidak mempunyai makna atau fungsi tertentu dalam bahasa Indenesia. Berikut ini contoh pemakaian nomina dasar dalam kalimat.

  • Upaya mempertahankan kelangsungan hidup suatu organisme terlihat dari kenyataan tetap lestarinya jenis organisme tersebut.
  • Dengan kemampuannya untuk berkembang biak dengan cara menumpang di dalam sel hidup, virus dianggap organisme.
  • Pada hewan  biasanya  diawali  dengan  perkawinan,  namun  ada  juga organisme yang berkembang biak tanpa melalui perkawinan.
  • Kerongkongan berupa  saluran  yang  panjang,  bagian  bawah  membesar berupa kantung disebut tembolok.

Kata upaya (1), virus (2), hewan (3), dan  kantung (4) merupakan contoh bentuk nomina dasar.

Kategorisasi Nomina Dasar

Menurut Hasan Alwi, dkk. (2000: 218) nomina dasar dapat dibagi menjadi dua, yaitu (1) nomina dasar umum dan (2) nomina dasar khusus. Perhatikan contoh berikut ini.

  • Nomina Dasar Umum

Contoh: gambar  tahun meja   pisau rumah     tongkat malam            minggu

  • Nomina Dasar Khusus

Contoh: Iwan  butir paman adik Farida Pekalongan atas Selasa Pontianak batang   muka Kamis

Jika kita perhatikan benar kategori nomina dasar di atas, kita akan menyadari bahwa di balik kata itu terkandung pula konsep semantis tertentu. Nomina dasar umum malam misalnya, tidak mempunyai ciri makna yang mengacu ke tempat. Sebaliknya, nomina dasar umum meja dan rumah mengandung makna tempat.

Dengan demikian, kita dapat membentuk kalimat seperti  Letakkanlah  penamu  di  meja,  tetapi  kita  tidak  dapat  membentuk kalimat * Letakkanlah penamu di malam. Kita juga tidak dapat membentuk kalimat dengan kata *secara minggu, *secara tongkat, *dengan tahun, dan *di atas tahun.

Ciri semantis yang melekat secara hakiki pada tiap kata sangatlah penting dalam bahasa karena ciri itulah yang menentukan apakah suatu bentuk dapat diterima oleh penutur asli atau tidak. Pembolak-balikan contoh di atas akan menyebabkan kita menolaknya.

Selanjutnya, dalam kelompok nomina dasar khusus di atas kita temukan berbagai subkategori kata dengan beberapa fitur semantiknya berikut ini.

  1. Nomina yang diawali oleh atas dan muka mengacu pada tempat.
  2. Nomina yang  diwakili  oleh  Pekalongan  dan  Pontianak  mengacu  pada nama geografis.
  3. Nomina yang diwakili oleh batang dan butir menyatakan penggolongan kata berdasarkan bentuk rupa acuannya secara idiomatis.
  4. Nomina yang diwakili oleh Iwan dan Farida mengacu pada nama diri orang.
  5. Nomina yang diwakili oleh adik dan paman mengacu pada orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan.
  6. Nomina yang diwakili oleh Selasa dan Kamis mengacu pada nama hari.

 

Secara sepintas, pembagian seperti itu tidak berguna. Tetapi, jika kita perhatikan benar perilaku bahasa pada umumnya dan bahasa Indonesia pada khususnya, kita akan tahu bahwa pengertian mengenai ciri semantis kata sangatlah penting.

Selain itu, juga mempunyai implikasi sintaksis yang membuat  penutur  asli  memiliki  kemampuan  untuk  menilai  keberterimaan suatu  kalimat  atau  tuturan.  Jadi,  jika  ada  kalimat  yang  melanggar  ciri semantis, kalimat itu akan kita tolak, kita beri arti yang unik, atau kita anggap aneh. Perhatikan pelanggaran ciri semantis dalam kalimat-kalimat berikut ini.

  • Selasa melempari rumah itu.
  • Pak Johan akan mengawini adik kandungnya sendiri.

Kalimat (1) kita tolak karena Selasa sebagai nomina mengacu pada waktu sehingga tidak mungkin dapat bertindak sebagai subjek dalam kalimat itu. Kemudian, kalimat (2) meskipun gramatikal, tetapi dalam budaya kita sangatlah aneh karena dalam ciri semantis adik kandung menyiratkan pengertian bahwa orang boleh kawin dengan seseorang yang bukan kakak, adik, paman, ayah, atau kekeknya sendiri.

Ciri dan Kategorisasi Nomina Bahasa Indonesia

Ciri Linguistik Kelas Kata Nomina

Nomina sering juga disebut kata benda. Disebut demikian karena dari segi makna, nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian.

Hasan Alwi, dkk. (2000: 213-217) berpendapat bahwa untuk menentukan kelas kata yang disebut nomina, dapat dilihat dari tiga ciri berikut ini.

  1. Ciri Semantis

Dilihat dari ciri semantis, dapat dikatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah nomina.

  1. Ciri Sintaksis

Dari segi sintaksis, nomina mempunyai ciri berikut ini.

  • Dalam kalimat  yang  predikatnya  verba,  nomina  cenderung  menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.
  • Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarannya adalah bukan. Jadi, untuk pengingkaran kalimat Ayah saya guru harus dipakai kata bukan, sehingga kalimatnya menjadi Ayah saya bukan guru.
  • Nomina dapat diikuti adjektiva, baik langsung maupun dengan diantarai kata yang. Jadi, kata rumah adalah nomina karena dapat bergabung dengan adjektiva menjadi rumah mewah atau rumah yang mewah.
  1. Ciri Morfologis

Dilihat dari ciri bentuk morfologisnya, nomina dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) nomina dasar dan (2) nomina turunan. Nomina dasar adalah nomina yang terdiri satu morfem (monomorfemik). Nomina turunan adalah nomina yang terbentuk melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. Berikut ini skematis nomina bahasa Indonesia.

Ciri Perilaku Sintaksis Nomina dalam Pemakaiannya

Menurut pendapat Syahidin Badru, Ebah Suhaebah, dan Non Martis (2000: 72 – 77), perilaku sintaksis nomina dalam pemakaiannya memiliki ciri berikut ini.

  • Perilaku Nomina sebagai Pembentuk Frasa

Pada hakikatnya frasa hanya mempunyai satu inti frasa di dalamnya. Salah satu unsur frasa berkedudukan sebagai inti frasa dan unsur lainnya berkedudukan  sebagai  atributnya.  Jadi,  dapat  dikatakan  bahwa  nomina sebagai pembentuk frasa itu artinya nomina berfungsi sebagai inti frasa dan unsur  lainnya  berfungsi  sebagai  atributnya.  Misalnya,  kata  rumah  yang berupa nomina yang dirangkaikan dengan adjektiva besar membentuk frasa nomina rumah besar. Pada frasa rumah besar itu, nomina rumah berfungsi sebagai inti frasa dan adjektiva besar berfungsi sebagai atributnya. Jadi dapat dikatakan bahwa nomina dipakai sebagai unsur inti pembentuk frasa.

Nomina yang berfungsi sebagai unsur inti pembentuk frasa dapat diikuti atau didahului oleh atribut-atribut yang berupa nomina, adjektiva, adverbia, numeralia, pronomina, perposisi, dan sebagainya. Jadi, unsur-unsur frasa nomina dapat diisi oleh kategori sintaksis yang berbeda-beda.

  • Perilaku Nomina dalam Tataran Klausa

Ditinjau dari segi fungsi, nomina dapat menempati setiap tempat ksosong dalam tataran klausa. Adapaun yang dimaksud dengan tempat kosong di sini adalah kerangka struktur klausa yang berada dalam tataran sintaksis dan bersifat formal relasional, seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.

Kategorisasi Nomina Bahasa Indonesia

Menurut pendapat Harimurti Kridalaksana (2005: 69 – 70), nomina dapat dikategorikan menjadi beberapa kategori berikut ini.

Nomina Bernyawa dan Nomina Tak Bernyawa

Nomina   bernyawa   dapat   disubstitusikan   dengan   ia   atau   mereka, sedangkan nomina tak bernyawa tidak dapat.

Nomina Bernyawa

Nomina bernyawa dapat dibagi atas:

  • Nomina persona (insani)

Berikut ini ciri sintaksis nomina persona (insani).

  1. Dapat disubstitusikan dengan ia, dia, atau mereka.
  2. Dapat didahului partikel si.

Berikut ini beberapa golongan nomina persona (insani).

  • Nama diri, seperti Marta, Herman, Safitri. Nama diri sebagai nama tidak  dapat    Jika  direduplikasikan,  ia akan menjadi nomina kolektif.
  • Nomina kekerabatan,  seperti  nenek,  kakek,  ibu,  bapak,  adik, anak.
  • Nomina yang menyatakan orang atau yang diperlakukan seperti orang, seperti tuan, nyonya, nona, raksasa, hantu, malaikat.
  • Nama kelompok manusia, seperti Jepang, Melayu, Bugis.
  • Nomina tak bernyawa yang dipersonifikasikan, seperti Inggris (nama bangsa), DPR (nama lembaga).
  • Nomina flora dan fauna

Berikut ini ciri sintaksis nomina persona (insani).

  • Tidak dapat disubstitusikan dengan ia, dia, atau mereka.
  • Tidak dapat  didahului  partikel  si,  kecuali  flora  dan  fauna  yang dipersonifikasikan (seperti si kancil atau si kambing).
  1. Nomina Tak Bernyawa

Berikut ini beberapa golongan nomina persona (insani).

  1. Nama lembaga, seperti DPR, MPR, KPU.
  2. Konsep geografis (termasuk tempat), seperti Bali, Utara, hilir, hulu.
  3. Waktu, seperti  Senin,  Selasa,  Januari,  Oktober,  1983,  pukul  8, sekarang, dulu, besok, kini.
  4. Nama bahasa,  seperti  Bahasa  Indonesia,  Bahasa  Sunda,  Bahasa Jawa.
  5. Ukuran dan takaran, seperti karung, goni, gram, kilometer, kali.
  6. Tiruan bunyi, seperti aum, dengung, kokok.

2)         Nomina Terbilang dan Nomina Tak Terbilang

  1. Nomina Terbilang

Nomina   terbilang   ialah   nomina   yang   dapat   dihitung   (dan dapat didampingi oleh numeralia), seperti kantor, kampung, kandang, buku, wakil, sepeda, meja, kursi, pensil, orang. (Catatan: untuk cairan, biji-bijian, dan tepung-tepungan harus dihitung dengan mempergunakan takaran).

  1. Nomina Tak Terbilang

Nomina tak terbilang ialah nomina yang tidak dapat didampingi oleh numeralia, seperti udara, kebersihan, kesucian, kemanusiaan; termasuk pula nama diri dan nama geografis.

3)         Nomina Kolektif dan Nomina Bukan Kolektif

  1. a) Nomina Kolektif

Nomina kolektif mempunyai ciri dapat disubstitusikan dengan mereka atau  dapat  diperinci  atas  anggota  atau  atas  bagian-bagian.  Nomina kolektif terdiri atas nomina dasar, seperti tentara, jamaah, keluarga; dan nomina turunan, seperti wangi-wangian, tepung-tepungan, minuman.

  1. b) Nomina Bukan Kolektif

Nomina  bukan  kolektif  ialah  nomina  yang  tidak  dapat  diperinci  atas bagian-bagiannya.

4)         Komponen Pembeda Makna Kata Bersinonim

  1. Ragam Bahasa

Ragam bahasa formal yaitu bahasa yang digunakan dalam situasi formal, seperti pidato, diskusi, dan seminar.

Contoh:

  1. Ibu dari Novita Sari, kami persilakan untuk naik ke atas panggung.
  2. Mak dari Novita Sari, kami persilakan untuk naik ke atas panggung.
  3. Mami dari Novita Sari, kami persilakan untuk naik ke atas panggung.
  4. Bunda dari Novita Sari, kami persilakan untuk naik ke atas panggung.
  5. Mama dari Novita Sari, kami persilakan untuk naik ke atas panggung.

 

  1. Nilai Rasa (Makna Emotif)

Kata-kata yang bersinonim dapat dilihat bedanya berdasarkan nilai rasanya. Nilai rasa yang berbeda menyebabkan munculnya perbedaan perasaan pemakaian bahasa yang dapat diwujudkan dengan memilih kata-kata tertentu yang bermakna lebih halus. Nilai rasa terhadap suatu kata sangat berkaitan dengan masyarakat pemakai bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, suatu kata yang sama bisa memiliki nilai rasa yang berlainan terhadap masyarakat bahasa yang berbeda.

Contoh:

  1. Ibu baru pulang dari kantor.
  2. Mak baru pulang dari kantor.
  3. Mami baru pulang dari kantor.
  4. Bunda baru pulang dari kantor.
  5. Mama baru pulang dari kantor.

 

  1. Tingkat Sosial

Pemakaian kata-kata yang berbeda dengan makna yang “kurang lebih sama” dalam pasangan sinonim dapat dikaitkan dengan tingkat kedudukan atau tingkat sosial seseorang. Ini mengingat dalam kehidupan masyarakat Indonesia terdapat golongan-golongan tertentu yang perlu disikapi dengan cara berbeda. Ada yang harus disikapi dengan penuh hormat, misalnya orang tua, saudara tua, tokoh masyarakat, atau guru. Ada juga yang bisa disikapi secara biasa, seperti teman akrab atau teman sebaya.

Contoh:

  • Ibu sedang mengantar adik ke sekolah.
  • Mak sedang mengantar adik ke sekolah.
  • Mami sedang mengantar adik ke sekolah.
  • Bunda sedang mengantar adik ke sekolah.
  • Mama sedang mengantar adik ke sekolah.
  1. Kelaziman Pemakaian (Kolokial)

Menurut pendapat Aminuddin, meskipun kata-kata dalam pasangan sinonim memiliki makna yang hampir sama, namun ada kalanya satu kata lazim digunakan dalam suatu konteks atau situasi pemakaian dan ada kalanya kata-kata lainnya tidak lazim. Dengan demikian, perbedaan makna dalam pasangan sinonim dapat dilihat berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokialnya). Contoh: kata ibu dan Mak memiliki makna referensial yang sama yaitu orang yang telah melahirkan seseorang. Tetapi tidak lazim bila dipakai dalam konteks kalimat:

1) Ibu anak itu adalah seorang direktur.

2) Mak anak itu adalah seorang direktur.

3) Mami anak itu adalah seorang direktur.

4) Bunda anak itu adalah seorang direktur.

5) Mama anak itu adalah seorang direktur.

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *