Menu
Makalah Lengkap dan Pengetahuan Umum

RENTANG SEHAT SAKIT

  • Bagikan

Pengertian Rentang Sehat – Sakit

Rentang sehat-sakit sebagai suatu skala ukur secara relatif dalam mengukur keadaan sehat/kesehatan seseorang, kedudukannya pada tingkat skala ukur dinamis dan  bersifat individual. Jarak dalam skala ukur yakni keadaan sehat secara optimal pada satu titik dan kematian pada titik  yang lain karena dipengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan.

Menurut Neuman (1990),adalah sehat dalam suatu rentang merupakan tingkat kesejateraan klien pada waktu tertentu, yang terdapat dalam rentan dan kondisi sejahtera yang optimal, dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi kematian yang menandakan habisnya energi total.

Dengan  model   ini  diharapkan  perawat  dapat   menentukan  pada  tingkat  mana kesehatan klien berada sesuai dengan rentang sehat-sakitnya. Hanya saja dengan model ini perawat biasanya sulit menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan titik tertentu yang ada diantara dua titik ekstrim pada rentang ini.

Berdasarkan konsep sehat sakit tersebut, maka paradigma keperaatan dalam konsep sehat sakit memandang bahwa bentuk pelayanan keperawatan yang akan diberikan selama rentang sehat sakit, akan melihat terlebih dahulu status keseatan dalam rentang sehat sakit tersebut, apakah statusnya dalam keadan setengah sakit, sakit, atau sakit kronis, sehngga akan diketahui tingkatan asuhan keperawatan yang diberikan serta tujuan yang ingin diharapkan dalam meningkatkan status kesehatan.

Rentang Sehat

Rentang sehat ini diawali dari status kesehatan normal, sehat sekali dan sejahtera. Dikatakan sehat bukan berarti bebas dari penyakit, akan tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Selain empat komponen utama terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang, yakni:

a. Faktor Internal

1)      Tahap Perkembangan

Artinya status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini adalah pertumbuhan  dan  perkembangan,  dengan  demikian  setiap  rentang  usia  (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda.

Untuk itulah seorang tenaga kesehatan (perawat) harus mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan klien pada saat melakukan perncanaan tindakan. Contohnya: secara umum seorang anak belum mampu untuk mengenal keseriusan penyakit sehingga perlu dimotivasi untuk mendapatkan penanganan atau mengembangkan perilaku pencegahan penyakit.

2)      Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan

Keyakinan seseorang terhadap kesehatan terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan penyakit, latar belakang pendidikan, dan pengalaman masa lalu.

Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk memehami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan sendirinya.

3)      Persepsi tentang fungsi

Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya akan berakibat pada keyakinan terhadap kesehatan  dan  cara  melaksanakannya.  Contoh,  seseorang  dengan  kondisi  jantung  yang kronik merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan orang yang tidak pernah mempunyai masalah kesehatan yang berarti. Akibatnya, keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakan kesehatan pada masing-masing orang cenderung berbeda-beda. Selain itu, individu yang sudah berhasil sembuh dari penyakit akut yang parah mungkin akan mengubah keyakinan mereka terhadap kesehatan dan cara mereka melaksanakannya.

4)      Faktor Emosi

Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Seseorang yang mengalami respons stres dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespons terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam kehidupannya.

Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang mungkin mempunyai respons emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap ancaman penyakit mungkin akan menyangkal adanya gejala penyakit pada  dirinya dan  tidak mau  menjalani pengobatan.

5)      Spiritual

Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup. Spiritual bertindak sebagai suatu tema yang terintegrasi dalam kehidupan seseorang.

b. Faktor Eksternal

1)      Praktik di Keluarga

Cara bagaimana keluarga menggunakan pelayanan kesehatan biasanya mempengaruhi cara klien dalam melaksanakan kesehatannya.

2)      Faktor Sosioekonomi

Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya. Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan kerja. Seseorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara pelaksanaannya.

3)      Latar Belakang Budaya

Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu, termasuk sistem pelayanan kesehatan dan cara pelaksanaan kesehatan pribadi. Untuk perawat belum menyadari pola budaya yang berhubungan dengan perilaku dan bahasa yang digunakan.

c. Rentang Sakit

Rentang sakit merupakan rangkaian dalam konsep sehat – sakit. Rentang ini dimulai dari  keadaan  setengah  sakit,  sakit,  sakit  kronis  dan  kematian.  Sakit  pada  dasarnya merupakan keadaan terganggunya seseorang dalam proses tumbuh kembang fungsi tubuh secara keseluruhan atau sebagian, serta terganggunya proses penyesuaian diri manusia.

Tahapan – tahapan yang terjadi selama proses sakit:

1)      Tahap Gejala

Tahap ini merupakan tahap awal seseorang mengalami proses sakit dengan ditandai adanya perasaan tidak nyaman terhadap dirinya sendiri karena timbulnya suatu gejala yang dapat meliputi gejala fisik.

2)      Tahap Asumsi terhadap Sakit

Pada tahap ini seseorang akan melakukan interpretasi terhadap sakit yang dialaminya dan  akan  merasakan  keragu-raguan  pada  kelainan  atau  gangguan  yang  dirasakan  pada tubuh.

3)      Tahap Kompak dengan Pelayanan Kesehatan

Tahap ini seseorang telah melakukan hubungan dengan pelayanan kesehatan dengan meminta nasehat dari profesi kesehatan seperti dokter, perawat atau lainnya yang dilakukan atas inisiatif dirinya sendiri.

4)      Tahap Ketergantungan

Tahap ini terjadi setelah seseorang dianggap mengalami suatu penyakit yang tentunya akan mendapatkan bantuan pengobatan sehingga kondisi seseorang sudah mulai ketergantungan dalam pengobatan akan tetapi tidak semua orang mempunyai tingkat ketergantungan yang sama melainkan berbeda berdasarkan tingkat kebutuhannya.

5)      Tahap Penyembuhan

Tahap ini merupkan tahap terakhir menuju proses kembalinya kemampuan untuk beradaptasi, di mana seseorang akan melakukan proses belajar untuk melepaskan perannya selama sakit dan kembali berperan seperti sebelum sakit.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *