Menu
Makalah Lengkap dan Pengetahuan Umum

Toleransi (Tasamuḥ)

  • Bagikan

Pengertian Toleransi (Tasāmuḥ)

Kata tasāmuḥ diambil dari kata samaḥa berarti tenggang rasa atau toleransi. Dalam bahasa Arab sendiri tasāmuḥ berarti sama-sama berlaku baik, lemah lembut dan saling pemaaf.

Dalam secara istilah, tasāmuḥ adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh agama Islam.

Maksud dari tasāmuḥ ialah bersikap menerima dan damai terhadap keadaan yang dihadapi, misalnya toleransi dalam agama ialah sikap saling menghormati hak dan kewajiban antar agama.

Tasāmuḥ dalam agama bukanlah mencampuradukkan keimanan dan ritual dalam agama, melainkan menghargai eksistensi agama yang dianut orang lain.

Toleransi Dalam Agama Islam

Tasāmuḥ ialah sikap yang mengarahkan pada keterbukaan dan menghargai perbedaan. Perbedaan merupakan fitrah yang sudah menjadi ketetapan Allah Swt. dan seluruh manusia tak bisa menolak-Nya. Allah berfirman:

Konsep tasāmuḥ yang ditawarkan Islam sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelit-belit. Yaitu dengan mengenali, menghargai, dan terbuka dengan perbedaan.

Namun,  apabila  hubungannya  dengan  keyakinan  dan  ritual,  agama Islam tidak mengenal kata kompromi. Keyakinan umat Islam kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain begitu pula dengan ritualnya.

Sebagai bukti bahwa tasāmuḥ merupakan salah satu ajaran Islam adalah Allah melarang penganutnya mencela tuhan-tuhan dalam agama manapun. Tanpa larangan tersebut, manusia akan saling memperolok jika berbeda keyakinan. Allah Swt. berfirman:

Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah, maka beliau menjawab, “al-Hanafiyyah as-Samhah (agama yang lurus yang penuh toleransi), itulah agama Islam”.

Dalam   Islam,   tasāmuḥ   berlaku   bagi   semua   orang   tanpa   mengenal perbedaan. Akan tetapi setiap orang memiliki perbedaan penerapan tasāmuḥ, ada yang  masih  belum  terlatih  melakukannya  dan  ada  yang  sudah  terlatih melakukannya.

Untuk itu Syaikh Yusuf Qardhawi menjelaskan  adanya  empat faktor yang mendorong sikap tasāmuḥ, yaitu:

  1. Keyakinan bahwa manusia itu makhluk mulia.
  2. Perbedaan di dunia ialah realitas yang dikehendaki Allah.
  3. Allah Maha  membuat  perhitungan,  jadi tiada  kuasa  mutlak manusia  untuk mengadili kekafiran atau kesesatan seseorang.
  4. Keyakinan akan perintah Allah untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia.

Membiasakan Berperilaku Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari

Setelah  mengetahui  sikap  tasāmuḥ  dalam  Islam.  Kita  dituntut  untuk bersikap tasāmuḥ. Sebagai contoh sikap tasāmuḥ dalam Islam yaitu,

  1. Di kota  Madinah,  Rasulullah  Saw.  tidak  sungkan  berdampingan  dengan pribumi Yahudi maupun Nasrani.
  2. Ketika menaklukkan Jerussalem, khalifah Umar r.a. tidak merusak tempat- tempat ibadah warga non-muslim dan pemeluknya teteap diberikan kebebasan untuk menjalankan ritual agamnya.
  3. Rasulullah Saw. memberi makan seorang beragama Yahudi buta dan miskin.
  4. Ketika ada jenazah seorang Yahudi melintas di sebelah Rasulullah Saw. dan para sahabat, Rasulullah Saw. berhenti dan berdiri. Kemudian seorang sahabat berkata, “Kenapa engkau berhenti ya Rasulullah? Padahal itu adalah jenazah orang Yahudi?” Rasulullah Saw. bersabda: “Bukankah dia juga manusia?
  • Bagikan

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *