Menu
Makalah Lengkap dan Pengetahuan Umum

PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH I

  • Bagikan

SILSILAH KHALIFAH BANI UMAYYAH I

PROSES LAHIR  DAN FASE-FASE PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH I

a. Proses Lahirnya Bani Umayyah I

Lahirnya Bani Umayyah I Damaskus tahun 40 hijriyah oleh Muawiyah bin Abi Sufyan di kota kecil Illiyat di wilayah Yerussalem, diperkirakan oleh para pakar sejarahwan sebagai sabotase terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib dari   pemerintahan   terakhir   Khulafaurrasyidin.

Karena   pengangkatan   Ali bin Abi Thalib oleh mayoritas masyarakat Islam mengganti khalifah Usman tidak pernah disetujui oleh pihak Muawiyah, maka berbagai cara dilakukan oleh Muawiyah untuk menurunkan atau menghancurkan Ali bin Abi   Thalib dari  pemerintahannya.

Salah  satu caranya ialah Muawiyah dan kelompoknya memfitnah Ali dengan menyebarkan isu bahwa Ali-lah yang ada di belakang terbunuhnya Usman bin Affan. Isu ini termakan oleh beberapa pembesar  di kalangan  umat Islam, seperti Siti Aisyah, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.

Mereka mengumumkan perang  terhadap Ali bin Abi Thalib  karena sewaktu  mereka meminta pertanggungjawaban khalifah Ali akan kematian Usman bin Afan, Ali dengan tegas mengatakan dia tidak tahu menahu tentang kematian Usman.

Mereka lalu mengangkat perang terhadap Ali bin Abi Thalib dengan tujuan memaksa Ali unuk mengakui perbuatannya. Perang tersebut di sebut perang  Jamal karena  Aisyah mengendarai unta  pada saat memimpin perang. Kemenangan perang berada di pihak Ali karena mayoritas masyarakat Islam mendukung Ali bin Abi Thalib.

Kelompok Muawiyah tetap membuat propaganda untuk menghancurkan pemerintahan Ali dengan cara menghimpun kekuatan besar dengan  tujuan menyerang Ali bin Abi Thalib. Tantangan Muawiyah dijawab oleh Ali dengan mempersiapkan pasukan.

Perang berkecamuk dan menelan banyak korban diantara kedua belah pihak yang bertikai. Perang tersebut  dalam  sejarah dikenal dengan nama perang Sifϐin karena terjadi di wilayah kecil Sifein, sebuah wilayah perbukitan antara Madinah dengan Damaskus.

Kemenangan perang berada di pihak Ali karena mayoritas masyarakat Islam mendukung khalifah Ali bin Abi Thalib. Akan  tetapi seperti pada perang sebelumnya yaitu perang Jamal, Muawiyah tidak pernah menerima kemenangan  khalifah  Ali bin Abi Thalib.

Sikap tidak mau menerima kekalahan itu   di wujudkan Muawiyah dengan  mengajak damai khalifah  Ali sampai  3  kali dengan  cara membujuk dan merobek-robek al-Qur’an. Pada akhirnya Ali mau berdamai karena melihat al-Qur’an dirobek-robek  oleh  Muawiyah.

Skenario perdamaian diatur oleh Muawiyah atas ide Amru bin Ash, dan pra perdamaian dilakukan antara Muawiyah dengan Amru bin ‘Ash disatu pihak dan Ali dengan Musa Asyari di pihak lawan . Pra perdamaian itu menyepakati untuk besok  pada  saat perdamaian, Muawiyah   dan Ali di umumkan diturunkan dari jabatan khalifah dan diangkat khalifah yang baru atas pilihan masyarakat Islam.

Ternyata   besoknya   pada   saat perdamaian   berlangsung pada saat acara  mengumumkan  menurunkan Muawiyah  dan Ali,  yang  berdiri  giliran pertama mengumumkan adalah Abu Musa karena usianya  lebih  tua, dan dia mengumumkan bahwa hari ini menurunkan Ali dari kekhalifahan.

Sementara giliran kedua Amru bin ‘Ash berdiri kemudian mengumumkan bahwa karena Ali sudah  di  turunkan  dari  khalifah, maka  saya mengumumkan Muawiyah menjadi  khalifah yang  sah. Sekenario  perdamaian  ini disebut Arbitrase

Sikap damai Ali  ternyata  tidak memberi perdamaian yang sesungguhnya tetapi menambah sejarah panjang pertikaian Ali dengan Muawiyah. Kelompok Ali justru pecah menjadi 3 kelompok, khawarij yang menentang keras terhadap perdamaian, syiah yang setuju dengan sikap  Ali dan murjiah yang mengambil jalan tengah dengan  sikap  diam.

Muawiyah memfungsikan kelompok  keras khawarij untuk membunuh khalifah Ali dan seorang pengikut garis keras khawarij yang bernama Abdur Rahman bin Muljam pada  suatu pagi  setelah sholat   shubuh menusuk khalifah Ali.

Wafatnya Ali disambut oleh   pihak Muawiyah   dengan   suka   ria, karena dengan   demikian Bani Umayyah   yang telah  diproklamirkan pada tahun 40 hijriyah akan menjadi eksis dan menjadi satu-satunya pemerintahan yang sah  dalam Islam.

FASE-FASE PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH I DAMASKUS

Selama 92 tahun Bani Umayyah I berdiri dapat dibagi menjadi beberapa fase pemerintahan, yaitu :

a. Fase berdiri atau fase pembentukan dan pembinaan

Dimulai dari berdirinya Bani Umayyah tahun 40 H atau 662M sampai masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik khalifah ke-6 ketika Islam masuk Eropa atau Andalusia yang dibawa oleh Tariq bin Ziad tahun 711 M. Pada masa ini pembinaan peradaban Islam berjalan dengan pendekatan Arabisasi (arab oriented) yaitu pengembangan peradaban yang berciri Arab.

Pada saat itu pengembangan peradaban didominasi ukiran-ukiran di dinding-dinding masjid dan istana yang dihiasi dengan tulisan-tulisan kaligrafi yang indah. Lagu-lagu padang pasir dari warisan arab pra Islam dipadukan dengan seni Islam yang menghasilkan lagu-lagu qasidah yang indah.

Ilmu yang dikembangkan oleh Bani Umayyah I pada saat itu masih  yang  berciri arab asli,  yaitu bahasa (nahwu dan   balaghah), qiraat dan hadis, tafsir dan tarikh Islam. Pada fase pertama ini    perluasan  wilayah berjalan sangat  pesat, Islam masuk sampai  wilayah- wilyah  pelosok di empat  benua: Asia,  Afrika  Eropa  dan Amerika.

Wilayah di Imperium – Imperium  besar: Yunani, Romawi, Persia  dan Gothia banyak  yang takluk pada   Islam   dengan membayar   upeti yang   besar. Khusus   Imperium besar  Yunani pada saat  itu telah  lemah dan  semuah  wilayah telah  dikuasai oleh  Imperium yang  baru muncul yaitu  Islam  Bani  Umayyah I.

Pembinaan peradaban, ilmu dan kebudayaan serta administrasi pemerintah berkembang baru pada periode selajutnya sementara pada periode ini para khalifah fokus pada pengembangan wilayah kekuasaan atau perluasan wilayah (islamisasi) .

b. Fase Kemajuan

Dimulai dari masa khalifah ke -7 Sulaiman bin Abdul Malik sampai masa Umar  bin  Abdul  Aziz  khalifah  yang  ke-8  dari  pemerintahan  Bani  Umayyah I Damaskus.

Pada fase ini Islam telah berkembang hampir di penjuru dunia, seperti  dari wilayah Asia Tenggara sampai Asia Timur jauh dari Afrika utara sampai Andalusia dan dari India sampai Persia. Islam dibawa oleh sahabat- sahabat nabi; Uqbah bin Nabi dan Musa bin Nusair di Afrika Utara, Saad bin Abi Waqas di wilayah Cina dan Indonesia, Abdullah bin Abi Sara di India dan Tariq bin Ziad di Eropa atau Andalusia.

Pada fase  kedua ini  perluasan wilayah Islam tetap berjalan dengan lancar,  banyak wilayah  baru yang  ditaklukan, akan tetapi perhatian pemerintah diarahkan penuh pada pengembangan peradaban ilmu dan administrasi pemerintahan.

Pemerintahan Bani Umayyah sedang membangun pusat-pusat  kota menjadi  kota  satelit  yang  indah,  Masjid  dan istana di  bangun  dalam  kualitas  yang baik,  serta  pada  fase  ini penemuan mata uang sebagai alat pembayaran telah ditemukan oleh khalifah Marwan bin Hakam khalifah keempat Bani Umayyah I sebagai bukti kemajuan  peradaban Bani Umayyah telah berjalan dengan pusat. Pada   fase   ini   Bani   Umayyah I sudah mampu menciptakan beberapa peradaban yang  mempunyai kualitas tinggi, dan dapat dimanfaatkan  oleh orang banyak. Bentuk-bentuk peradaban yang  tumbuh pada masa  kejayaan Bani Umayyah I diantaranya;

  1. Ilmu pengetahuan ; qiraat, nahwu dan  balaghah, tafsir,  hadis dan  sejarah b.   Bangunan  ϐisik; Istana, Masjid, pengairan  dan  irigasi, dan jembatan
  2. Fasilitas pendidikan ; Kuttab, Halaqah di Masjid, dan Majelis munadarah
  3. Departemen pemerintah; Nidhamul Maal = keuangan, Siasy = politik, harby = keamanan, Idary = adminstrasi, dan Qadi = hukum, Jawatan pos, pengawal istana, ketentaraan, sekretaris dan pengantar  surat
  4. Fase lemah sampai runtuh

Fase ini dimulai dari masa kekuasaan Yazid bin Abdul Malik khalifah ke-9 yang tidak  bisa mengendalikan pemerintahan seperti kedua kakaknya Walid dan Sulaiman.

Pada saat dia diangkat banyak terjadi  pemberontakan dan khalifah Yazid sendiri tidak dapat mengendalikan pemberontakan-pemberontakan tersebut. Kondisi ini terjadi sampai puncaknya pada saat pengangkatan 2 khalifah dalam satu tahun berjalan yaitu putra dari khalifah Walid,   khalifah ke-12  Yazid  bin  Walid  dan  ke-13  Ibrahim  bin  Walid.

Menurut  para  pakar sejarah Islam bahwa masa puncak lemahnya Bani Umayyah dikarenakan masyarakat benci dan marah kepada pemerintahan  Bani Umayyah lantaran terjadi pengangkatan 2 khalifah dalam  satu tahun pemerintahan,  dan  tidak segera mengambil kebijakan siapa  diantara  kedua  putra  mahkota Walid 2 itu menjadi khalifah yang  sah.

Sistem  monarki  yang  dipakai  dalam  proses  peralihan  kepemimpinan  di Bani Umayyah I ikut memperparah kelemahan Bani Umayyah termasuk faktor paling dominan penyebab runtuhnya tahun 132 H atau tahun 670 M.

Akibat dari pelaksanaan sistem monarki di Bani Umayyah I selain  yang  disebutkan di atas juga dapat memberi peluang kepada para putra mahkota untuk melakukan  penyelewengan kekuasaan, seperti kolusi, korupsi, tidak disiplin dalam pekerjaan dan tidak dapat bertanggungjawab terhadap satu pekerjaan.

Akhirnya yang terjadi adalah para pembesar lain seperti pengawal istana, perdana mentri dan para qodhilah yang dapat mengendalikan pemerintahan, sementara para khalifah yang berkuasa tidak dapat mengambil tindakan hukum terhadap para pelaku nepotisme, korupsi dan penyelewengan  jabatan lainnya.

Sikap mayarakat terhadap kasus-kasus amoral di atas membuat masyarakat semakin  benci dan marah pada  keturuan Bani Umayyah I, puncaknya dari kemarahan tersebut membuat masyarakat melakukan  demonstrasi menuntut tanggung  jawab  para khalifah. Bani Umayyah I

Lemahnya Bani Umayyah I pada fase ini terjadi hampir di semuah wilayah kekuasaan  Bani Umayyah I. Sementara  di  luar  kekuasaan Bani Umayyah I sedang berkembang  pesat beberapa kekuatan baru seperti Abbasiyah dan Syiah  di Wilayah  Hijaz dn Persia, bani Fatimiyah di Mesir dan Thohiriyah di Maroko.

Sedangkan kekuatan  baru  yang  berhadapan  langsung  dengan  Bani Umayyah I adalah Abbasiyah . Peperangan  yang di lancarkan kedua kekuatan ini  berjalan secara  terbuka hampir  di semuah wilayah Bani Umayyah I, dan pada   akhirnya kekuatan   Abbasiyahlah   yang memenangkan   pertempuran tersebut. Maka  berakhirlah  kekuasaan  Bani Umayyah I tepatnya  tahun  132 hijriyah  atau   tahun 750 masehi setelah  kalah dalam perang al-Zab melawan keturunan Abbasiyah.

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *