Menu
Makalah Lengkap dan Pengetahuan Umum

TRADISI MAPPANRE TEMME (MENGHATAMKAN AL-QUR’AN)

  • Bagikan
GAMBAR ILUSTRASI

Tradisi Mappanre Temme (menghatamkan Al-Qur’an) dalam adat bugis

Tradisi mappanre temme‟ merupakan suatu tradisi Islam yang terutama dilakukan oleh orang Bugis apabila salah seorang murid mengaji selesai menamatkan Quran besar. Sebenarnya hampir di semua daerah di Sulawesi Selatan tradisi ini ditemukan, namun pelaksanaanya yang meriah kebanyakan ditemukan di beberapa daerah Bugis dan Mandar. Di daerah-daerah lainnya umumnya dilaksanakan   secara sederhana dan terkesan biasa-biasa saja

Di daerah Bugis tradisi mapanre temme‟ biasanya dilaksanakan sebelum seseorang melaksanakan pernikahan atau sebelum mappaci (rangkaian proses pernikahan Bugis). Pada acara mappanre temme‟  calon mempelai duduk berhadapan dengan imam, diantarai bantal dengan al-Qur‟an diatasnya.

Imam membaca Quran dengan suara tidak terlalu keras diikuti dan disimak dalam hati calon mempelai. Surat pertama yang dibaca adalah Adh Dhuha, lalu An-Naas, kemudian diteruskan Alip Lam Mim dalam Surat Al-Baqarah sampai ayat lima dan diakhiri dengan doa.

Pada setiap peralihan dari satu surat ke surat lainnya, imam selalu membaca ”La Ilaha Illallahu Wallahu Akbar (Tidak ada Tuhan selain Allah Maha Besar). Dan pada saat itu pula seorang perempuan tua yang mendampingi calon mempelai melemparkan  beras  ke  atas  kepala  calon  mempelai  diiringi  kata-kata  ”Salamakki  ri Puang”(mohon keselamatan dari Tuhan).

Adapun makna dan tujuan dari tradisi mappanre temme diantaranya adalah motivasi, motivasi berasal dari bahasa latin yang berbunyi movere yang berarti dorongan atau mengerakkan. Kata motivasi memiliki arti sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang.

Motif tidak dapat diamati secara kasat mata atau secara langsung, namun dapat diinterpretasikan dalam tingkah dan laku seseorang tersebut, dalam bentuk rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya sesuatu tingkah laku tertentu. Motivasi orang bergantung  pada   kekuatan   motif-motif   mereka.

Motif  biasanya   didefinisikan  sebagai kebutuhan (need), keinginan(wants), dorongan(drives) atau desakan hati (impulse) dalam diri individu. Motif diarahkan pada tujuan yang mungkin sadar atau tidak sadar.

Menurut Martin Handoko, motivasi adalah sebagai suatu tenaga atau faktor yang terdapat  dalam  diri  manusia  yang  menimbulkan,  mengarahkan  dan  mengorganisasikan tingkah laku.

Adapun motivasi menurut Sarlito Wirawan adalah merupakan istilah yang lebih umum menunjukan kepada seluruh gerakan terhadap situasi yang mendorong timbul dari dalam individu. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan akhir daripada gerakan perbuatan.

Calon mempelai yang membaca al-Qur‟an yang dimulai membaca surah Ad-Dhuha, lalu An-Naas, Surah Al-Baqarah sampai dengan ayat kelima dan di akhiri dengan doa.

Pada setiap peralihan surah Seorang imam selalu membaca La ilaha Illallahu Wallahu Akbar dan pada saat itu pula seorang perempuan tua yang mendampingi calon mempelai melemparkan beras ke atas kepala calon mempelai sambil mengucapkan “salamakki ri Puang” (Mohon Keselamatan dari Tuhan).

Pernyataan  tersebut diakui oleh salah  seorang  informan  yang  mengatakan bahwa ketika calon mempelai sudah siap dikhatamkan ada beberapa surah yang dibaca seperti Ad- Dhuha sampai dengan surah An-Naas di setiap peralihan surah seorang tua menaburkan beras ke  kepala  calon  mempelai,  setelah  surah  An-Naas  lanjut  membaca  Alip  Lam  Mim  ayat pertama sampai ayat kelima dalam Surah Al-Baqarah setelah membaca Al-Quran Seorang Imam membaca doa supaya diberi keselamatan.

Tradisi mappanre temme‟ dulunya merupakan tradisi yang berdiri sendiri, tata cara pelaksanaanya sudah berbeda dengan sekarang, dalam pembelajaran tersebut, si murid akan melalui beberapa tahapan prestasi. Pada saat mencapain setiap prestasi itu orang tua murid melakukan upacara selamatan.

Prestasi pertama si murid ialah ketika ia mencapai bacaan Surah  Al-Fatihah.  Pada  pencapaian  prestasi  ini,  orang  tua  murid  mengadakan  upacara selamatan yang disebut maccera Al-Hamdu, yaitu membawa barakka ke guru mengaji berupa kelapa dua buah dan gula merah.

Prestasi berikutnya ialah pada saat si murid berhasil menamatkan al-Qur‟an Kecil. Pada pencapaian ini prestasi ini orang tua murid mengadakan upacara selamatan yang disebut Maccera Koroang Beccu.

Upacara selamatan ini diadakan di rumah guru mengaji dan untuk itu orang tua murid juga menyediakan Barakka untuk sang guru mengaji. Puncak prestasi seorang murid ialah ketika ia berhasil menamatkan al-Qur‟an besar. Pada saat itu orang tua murid mengadakan upacara selamatan yang disebut mappanre temme‟.

Melalui kegiatan tradisi mappanre temme‟  dapat diambil beberapa nilai-nilai sosial, diantaranya:  Gotong   royong,   merupakan   nilai   yang   terserat   jelas   dalam  tradisi   ini.

Pelaksanaan prosesi mappanre temme‟ tentu membutuhkan kerja sama yang baik sehingga dalam   proses   penyelesaian   tahapan-tahapan   pelaksanaan   kegiatan   mappanre   temme‟ terbangun kerja sama yang baik antara manusia sebagai individu kepada masyarakat lainnya.

Tolong-menolong, jelas merupakan sebuah nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini selanjutnya, konsep tolong menolong, tidak dapat terlepas dari prinsip gotong royong, keduannya ibarat dua sisi mata uang yang saling menjaga. Hal ini pun, didukung dengan sebuah dalil dalam Q.S al-Maidah/5:2:

Terjemahannya:

”… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah swt memerintahkan para hamba-Nya yang beriman agar saling tolong menolong dalam melakukan berbagai kebajikan.

Dan itulah yang dimaksud dengan kata al-abirr (kebaktian). Dan tolong menolonglah kalian dalam meninggalkan berbagai kemungkaran. Dan inilah yang dimaksud dengan takwa (dalam arti sempit, yakni menjaga untuk tidak melakukan kemungkaran).

Nilai-nilai Dakwah Tradisi Mappanre Temme‟ yang dapat diambil ialah solidaritas, nilai solidaritas tidak dapat terlepas dari tradisi ini, terlebih lagi, telah ada nilai yang terjaga dalam tradisi ini yaitu gotong royong dan tolong menolong. Maka secara otomatis, akan muncul nilai solidaritas dalam tradisi mappanre temme.

Meninjau nilai-nilai tradisi mappanre temme‟ melalui pendekatan budaya. Menurut Toriolo, yang menentukan manusia ialah berfungsi dan berperannya sifat-sifat kemanusiaan, sehingga orang menjadi manusia, dan begitu jugalah nilai-nilai kebudayaan Bugis. Adapun nilai-nilai budaya tradisi mappanre temme‟ seperti kejujuran, kepatutan, keteguhan, usaha dan siri‟.

Di dalam kebudayaan Bugis, Siri‟ suami harus dijaga oleh si istri dan begitu pula sebaliknya siri‟  harus pula dijaga oleh suami. Apabila siri‟  raja harus dihormati oleh raja. Maka  siri‟   rakyatpun  harus  dihormati  oleh  raja.  Satu  terhadap  lainnya  harus  saling memelihara  dan  menghormati  untuk  mencegah  timbulnya  perbuatan  atau  tindakan  yang memalukan (mappakasiri‟siri‟). Perasaan malu (masiri‟), dipermalukan (ripakassiri‟).

Nilai-nilai Islam dalam tradisi mappanre temme, yang dapat kita simpulkan ialah mengungkapkan rasa syukur Salah satu tujuan dari tradisi mappanre temme‟ yaitu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt.

Nilai syukur dalam tradisi mappanre temme‟tentu beriringan dengan efek sensorik yaitu kesenangan dan kebahagiaan. Jika seseorang merasa senang atau bahagia lalu lupa bersyukur, tentu tidak ada gunanya kebahagiaan yang ia miliki.

Bahkan Allah swt akan menambahkan nikmat dan pahala bagi orang-orang yang terus bersyukur kepadaNya. Hal ini tergambar dalam Q.S Ibrahim/14:7, sebagai berikut:

Terjemahnya

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”24

Selain ungkapan rasa syukur, ada juga nilai kesabaran dan silaturahmi yang tergambar dalam tradisi mappanre temme, nilai kesabaran merupakan bagian dari materi dakwah tentang akhlak, sikap sabar terhadap peran guru dan orang tua dalam menghadapi anak muridnya,baik selama dalam proses mengaji hingga proses menamatkan al-Qur‟an.

Sabar tergambar pula dalam sikap seorang murid mengaji yang selau berupaya sabar menyelesaikan proses belajar membaca al-Qur‟an. Sabar adalah kunci kesuksesan dan agama menganjurkan agar memperbanyak sabar dalam menghadapi kesulitan dan bertindak bijaksana dalam mengatasinya

 

 

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *